Senin, 29 November 2010

"TOMAT"

Senin pagi ! hari ini ! Seperti hari2 yang lain kecuali Sabtu dan Minggu seperti biasa jam 06.WIB, saya berangkat dari rumah Surabaya Timur laut menuju Surabaya Selatan. Mengantar si bungsu di SMA 10 berputar balik  lewat  Plaza Marina ,  Jl. A. Yani,  drop juragan perempuan  di depan IAIN yang akan nyambung angkota jurusan Krian-Mojokerto.
Radio mobil terus menyala bosan Radio Suara Surabaya yang selalu menyiarkan keruwetan lalu lintas,
pindah gelombang ada lagu yang menghentak menambah semangat untuk bekal berkarya hari ini.

Mau tau syairnya inilah dia :

Jumat, 12 November 2010

KHOTBAH JUM'AT SIANG TADI !

Setiap mendengarkan kotbah Jum.at  di masjid konsentrasiku untuk mendengarkan /memahami / mencerna  paling banyak 50 persen sisanya menguap berusaha sadar sampai air mata keluar akibat mengantuk. Bahkan sampai waktu sholat pernah dibangunkan jamaah lain karena ketiduran. Mungkin terlalu banyak mendengarkan kotbah baik sholat jum’at, pengajian atau keimanan saya yang tipis.

Tetapi Sholat Jum’at siang tadi lain. Walaupun sudah berulang kali  kisah Qurban saya ikuti. Yang ini lain,  saya mendengarkan dengan konsentrasi penuh, bahkan rasanya kok sebentar saja, masih kurang panjang khotbahnya.

Mungkin karena khotbah jum’at siang tadi cara penyampaian/ ustadnya ganteng  suaranya dan ngajinya enak didengar, atau saya tiba2 saya teringat ibuku, karena aku adalah anak yatim piatu atau yang lain.

Mau tahu isinya khotbah tadi siang ?

Caba bacalah isinya kira2 seperti ini :

Qurban biasanya dilaksanakan berbarengan dengan ritual ibadah haji, sedangkan bagi mereka yang belum mampu berhaji, disunnahkan berpuasa dan menyembelih qurban. Ritual Ibadah Haji seharusnya mampu mengingatkan umat Islam pada perjuangan Siti Hajar ketika mempertahankan hidupnya bersama Ismail di Mekkah, bukan hanya membangkitkan ingatan kepada penyembelihan Ismail oleh Ibrahim yang akhirnya tidak terjadi itu.

Latar belakang qurban yang dialami Nabi Ibrahim inilah yang paling banyak dikenal umat Islam hingga saat ini. Ketika Nabi Ibrahim telah berusia 100 tahun, beliau belum dikaruniai putra oleh Allah dan beliau selalu berdo’a: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang shalih”. Kemudian dari isterinya yang kedua, Siti Hajar, lahirlah seorang putra yang diberi nama Ismail. Hajar dan Ismail diperintahkan berhijrah ke Makkah diantar oleh Ibrahim. Beliau meninggalkan beberapa potong roti dan sebuah guci berisi air untuk Siti Hajar dan Ismail. Ketika Siti Hajar kehabisan makanan dan air, ia melihat ke sebelah timur. Di sana terdapat air yang ternyata hanyalah fatamorgana di Bukit Sofa. Ismail ditinggalkan dan Siti Hajar terus mencari air lalu naik ke Bukit Marwah serta kembali ke Sofa sampai berulang tujuh kali. Ia tidak juga mendapatkan air hingga kembali ke Bukit Marwah. Ismail yang kehausan lalu menendang-nendang tanah yang kemudian—dengan izin Allah—dapat mengeluarkan sumber air. Siti Hajar berlari ke bawah sambil berteriak kegirangan: “zami-zami”. Tempat itu lah kemudian dikenal dengan sumur atau mata air Zam-zam.

Nabi Ibrahim setelah mengantarkan Hajar dan Ismail di Mekkah lalu berangkat lagi ke Palestina sampai Ismail menjelang usia remaja. Nabi Ibrahim diperintahkan lagi oleh Allah untuk kembali ke Mekkah menengok Hajar dan Ismail yang sudah mulai beranjak besar.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa usia Ismail sekitar 6 atau 7 tahun. Sejak dilahirkan sampai sebesar itu Nabi Ismail senantiasa menjadi anak kesayangan. Tiba-tiba Allah memberi ujian kepadanya, sebagaimana firman Allah dalam surat Ash-Shaffaat: 102 : “Maka ketika sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha, Ibrahim berkata: Hai anakku aku melihat (bermimpi) dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Latar belakang qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim adalah ketika ia bermimpi menyembelih Ismail. Mimpi itu yang sering disebut al-ru’ya al-shadiqah (mimpi yang benar). Dalam mimpinya, Ibrahim mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail. Ketika sampai di Mina, Ibrahim menginap dan bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah, malamnya di Mina, Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang tidak berbeda pula. Ibrahim kemudian mengajak putranya, Ismail, berjalan meninggalkan tempat tinggalnya, Mina. Baru saja Ibrahim berjalan meninggalkan rumah, syaitan menggoda Siti Hajar: “Hai Hajar! Apakah benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail?”. Akhirnya Siti Hajar, sambil berteriak-teriak: “Ya Ibrahim, ya Ibrahim mau diapakan anakku?” Tapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Di tempat tersebut pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji diperintahkan melempar batu dengan membaca: Bismillahi Allahu Akbar. Hal tersebut mengandung arti bahwa manusia harus melempar syaitan atau membuang sifat-sifat syaitaniyyah yang bersarang di dalam dirinya, dengan tetap mempertahankan sifat-sifat kemanusiaan dan ke-Tuhanan.

Setibanya di Jabal Qurban, sekitar 200 meter dari tempat tinggalnyaa. Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Rencana itu pun berubah drastis, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffaat ayat 103-107:





“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. (Allah berkata) “Kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik”. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor hewan yang besar “.

Pada masa Nabi Muhammad, qurban pun diperintahkan kembali di dalam surat Al-Kautsar: 1-3: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dia lah yang terputus (dari nikmat Allah)”. Berbicara tentang kenikmatan, Allah mengingatkan: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34). Surat Al-Kautsar ini lah yang kemudian dijadikan dasar hukum bagi umat Nabi Muhammad untuk berqurban bagi yang mampu.

Dalam kisah Ibrahim, bila kita menengok kepada posisi Hajar dan Sarah dalam konteks qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail. Seandainya tanpa “izin” Sarah, Ibrahim tidak akan meminang Hajar untuk dijadikan sebagai isteri kedua. Poligami Ibrahim yang bertujuan untuk ikhtiar memperoleh keturunan pada awalnya adalah bagian dari pengorbanan Sarah yang rela memberikan suaminya demi harapan keturunan dari Hajar. Pun pengorbanan Hajar ketika ia harus mengarungi hidup tanpa Ibrahim (suami tercinta) di negeri yang sangat tandus dan gersang, Makkah saat itu.
Anehnya, semua pengorbanan perempuan lagi-lagi “nyaris tak terdengar”, karena sejarah lebih banyak menonjolkan peran laki-laki, Ibrahim dan Ismail. Itu sebabnya ingatan kita menjadi lebih kuat terpatri kepada pengorbanan Ismail yang rela dan siap disembelih oleh ayahnya, dan bagaimana perjuangan Ibrahim menepis keraguan Hajar karena godaan syaitan. Tambahan lagi, adanya syaithan yang menggoda Hajar seakan telah menjadi sebuah keniscayaan bahwa perempuan dikesankan memang sangat mudah digoda dan karenanya dikesankan pula ‘biasa menjadi penggoda’ untuk sebuah itikad atau cita-cita yang baik, seperti yang sebelumnya dikesankan menimpa Hawa ketika Iblis menggodanya untuk memakan buah khuldi dulu.

Memunculkan sudut pandang perempuan dalam sejarah qurban memang menjadi sulit. Belakangan, yang mengemuka adalah penafsiran-penafsiran dan upaya penerjemahan situasi dan konteks yang terjadi serta membandingkannya dengan cerita-cerita sejarah serupa dari sumber lain. Tidak salah jika kemudian ada banyak ragam penafsiran sebagai bagian dari upaya menarik atau melihat lebih cermat ‘suara’ perempuan dalam kisah tersebut.

Akan menjadi lebih bijaksana, jika kita tidak saja mengutip sejarah tersebut secara taken for granted (apa adanya), tetapi harus berusaha menggali nilai-nilai keadilan dan persamaan derajat—seperti yang sering didengungkan Islam—dalam hal-hal yang “tak terberitakan” dari kisah tersebut. Mungkin bagi sebagian kalangan, perspektif atau cara pandang ini terkesan tidak biasa. Seperti diketahui bahwa dalam Islam, kran berijtihad sangat terbuka dan dibenarkan menurut Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul, sementara cara pandang yang kritis dan adil yang dilandasi semangat kesederajatan kemanusiaan terhadap kisah-kisah qurban di atas adalah sebuah produk ijtihad.

Berkait dengan Sarah dan Hajar, beberapa hal yang dapat diungkap di sini, misalnya mengenai poligami Ibrahim terhadap Sarah dan posisi Hajar di antara mereka. Poligami adalah kenyataan sangat pahit yang terkadang harus diterima perempuan. Apalagi dalam agama Islam, poligami ‘seakan’ mendapatkan legitimasi dari al-Qur’an dan contoh dari Rasul, tak terlepas contoh yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Banyak orang tidak menangkap pengorbanan Sarah hingga kemudian dianugerahi anak pada usia yang sudah sangat lanjut. Sarah adalah seorang perempuan yang cantik. Bahkan karena kecantikannya, Ibrahim pernah memintanya untuk mengaku sebagai saudara perempuannya agar Sarah tidak diambil paksa oleh Raja Mesir yang berkuasa saat itu. Bila Raja Mesir mengetahui bahwa Sarah adalah istri Ibrahim, maka ia tidak segan mengambil Sarah dari sisi Ibrahim. Tentu saja pengakuan menjadi saudara perempuan Ibrahim memerlukan kebesaran hati Sarah dan mengorbankan egonya.

Ketika Raja Mesir pada akhirnya menghadiahkan Ibrahim seorang budak perempuan, tanpa segan Sarah mengusulkan kepada Ibrahim untuk memperistri budak yang bernama Hajar itu. Sebuah usul yang mungkin sangat sulit disampaikan oleh seorang perempuan. Sarah meminta Ibrahim memperistri Hajar agar Ibrahim dapat meneruskan keturunannya yang tidak diperoleh dari rahim Sarah. Pada saat itu, laki-laki beristri lebih dari satu sesungguhnya bukan hal luar biasa, bahkan penguasa atau raja sangat lumrah memiliki ratusan istri. Untuk Ibrahim, usulan Sarah adalah hal yang luar biasa. Pengorbanan Sarah pun secara tidak langsung memberikan hak kemerdekaan kepada Hajar yang semula berstatus budak menjadi manusia merdeka.

Dari perkawinan Hajar dan Ibrahim, Allah menganugerahkan mereka seorang anak bernama Ismail. Seberapa pun besar hati Sarah, tampaknya memang ia tetap manusia biasa yang memiliki keterbatasan, karena dia pun merasakan “kesedihan” ketika ia setiap hari menyaksikan kebahagian Ibrahim beserta anak dan istrinya yang lain di hadapannya sendiri. Perintah Allah pun turun kepada Ibrahim untuk mengantarkan Hajar dan Ismail ke negeri yang jauh daan tandus bernama Makkah dan meninggalkan mereka berdua di sana. Walau Hajar sempat bertanya mengapa ia harus pindah dan kemudiaan ditinggalkan di Makkah, tetapi Hajar akhirnya harus sanggup menerima keputusan bahwa ia memang harus mengasuh Ismail tanpa Ibrahim. Hajar mengorbankan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya bersama Ibrahim atas nama titah Ilahiah.

Tiada yang dapat mengira betapa keras perjuangan Hajar dalam kurun waktu 6-7 tahun untuk membesarkan Ismail. Pengorbanan seorang perempuan dan ‘ibu plus’ yang tulus. Sedang di tempatnya semula, Ibrahim telah kembali kepada istri pertamanya yang tidak lama kemudian dianugerahi anak bernama Ishak. Apa yang terbayang oleh seorang perempuan tatkala dia harus berjuang sendirian dengan anaknya, sedangkan di tempat lain suaminya sedang berbahagia dengan istri pertamanya. Bagaimana Hajar harus meletakkan kesedihannya, tatkala dia merasa bahwa Ismail sebagai anak memerlukan sentuhan kasih-sayang Ibrahim, sang ayah, sedangkan kenyataannya Ibrahim berada jauh dari sisinya dan mendekap hangat anaknya yang lain.

Kepasrahan, ketabahan, dan kesabaran Hajar adalah cermin bahwa ‘harga’ pengorbanannya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu tidak akan terbeli. Bahkan hingga akhirnya dia harus rela melepas Ismail tatkala perintah qurban turun kepada Ibrahim. Kalau peristiwa penyembelihan Ismail oleh Ibrahim seringkali dinyatakan sebagai salah satu bentuk ketakwaan Ismail dan Ibrahim, maka apalah yang pantas disandangkan kepada Hajar saat itu? Lebih-lebih Hajar sendiri yang berpesan kepada Ibrahim untuk tidak lupa membawa pedang yang tajam dalam menyembelih Ismail, puteranya.

Qurban pada akhirnya memang disimbolkan melalui penyembelihan seekor hewan. Terlepas dari itu, seperti yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad, penyembelihan hewan bukanlah tujuan, tetapi menjadi simbol bagi perlawanan terhadap tradisi yang menindas. Misalnya tradisi pada zaman jahiliyah yang justru seringkali menjadikan perempuan sebagai korban, seperti mengubur hidup-hidup bayi-bayi perempuan atas nama kemuliaan suku atau martabat seorang laki-laki, atau menjadikan perempuan sebagai pihak yang bisa diwariskan, atau dikendalikan kaum laki-laki.

Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW telah melakukan perubahan besar-besaran terutama dalam memandang perempuan. Dari sejarah diketahui bahwa perempuan pada masa itu tidak dianggap sebagai manusia merdeka yang utuh, tetapi hanya sebagai makhluk pelengkap kebutuhan laki-laki yang bisa dipegang dan dicampakkan sesuka hati. Perempuan tidak dibolehkan keluar rumah, tetapi malah Nabi Muhammad mengorganisir perempuan untuk menikmati hak pendidikan dan hak sosial mereka. Di sini menjadi wajar dan masuk akal, jika ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di masa-masa awal (ayat Makkiyyah) lebih banyak mengandung ajaran protes sosial terhadap status quo (kemapanan) yang tidak adil dan menindas, termasuk menindas terhadap kaum perempuan. Pertanyaannya adalah apakah semangat Islam pada masa awal yaitu menghapus ketidakadilan dan diskriminasi dalam segala hal, termasuk terhadap perempuan, masih akan dihidupkan dan diperjuangkan? Sedang jargon yang ada adalah Islam agama antiketidakadilan dan antidiskriminasi!            (12 nop 2010 )

Senin, 08 November 2010

"BURUK SANGKA"

Pagi ini Surabaya cerah, walaupun diatas Surabaya sebagian awan tipis masih menyelimuti, tetapi sinar matahari pagi yang mengandung ultra violet masih bisa menembus. Segar sekali udara karena debu partikel habis dijatuhkan dari udara karena hujan/ gerimis tadi malam.

Seperti biasa pagi ini jam 06.00 WIB kegiatan rutin saya lakukan kecuali hari Sabtu dan Minggu,  berangkat  mengantar anak sekolah dan juragan perempuan membelah Surabaya Timur laut ke Surabaya Selatan konsentrasi karena hari ini hari Senin, lalu lintas padat.

Diperjalanan banyak spanduk, baliho bertebaran di posisi yang strategis, terlihat jelas yang mau tidak mau pengemudi dan penumpangnya harus membacanya.

“ Yayasan…………….menerima hewan korban”

“ menerima hewan korban………………….lengkap ayat2 suci…

“ Korban dikota, bermanfaat didesa “…………..

dan banyak kata2 yang lain.

Juragan perempuan saya berkomentar : Apa ya sampai korban itu ? Kalau ya ! apa nggak dipotong untuk biaya macam2 termnasuk honor panitia/ pengurus ?
Dan saya pun menanggapi  : “ Jangan se – udon/ buruk sangka !”

Seperti Saat ini tiap perempatan jalan traffic lamp, banyak anak2 muda berjaket almamater dan Organisasi, LSM dg. Anak2 muda berpakaian se adanya membawa kotak2 dg. Tulisan sumbangan korban merapi, mentawai.
Tiap sore pulang jemput juragan lewat dan berhenti di TL Darmo juragan perempuan, sering memberikan sumbangan,tetapi yang saya perhatikan selalu di pilih yang berjaket almamater bukan yang berpakaian kumuh dan tiap saya Tanya dan jawabnya selalul sama “tidak pas, kurang menyakinkan !” Se udon lagi !  yang dalam bahasa arabnya disebut su’uzan.
Padahal cadangan dana keluarga (ma'af agak riak) hampir semua ditempat kan di bank syariah yang tidak mengenal sistim bunga tetapi diganti namanya menjadi bagi hasil.
Pernah saya tanya "apa bedanya ?" dan dia menjawab : "Kalau bohong, biar bank itu yang menanggung dosanya !...........
Harap maklum ! Saya dan juragan perempuan itu, termasuk yang iman nya tipis/ Islam abangan ! walaupun sejak awal berumah tangga berusaha membentuk keluarga sakinah dan terus berusaha belajar

Kebiasaan berburuk sangka telah ada sejak lama. Di sekitar kita, bila dicermati, bertebaran sikap manusia yang berprasangka buruk. Sebutlah pandangan mata curiga, sinis, ekspresi kecut yang penuh apriori, sampai dalam bentuk sikap kasar yang tidak bersahabat.

Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sekali-kali janganlah kamu berburuk sangka, karena sungguh buruk sangka itu adalah perkataan yang paling bohong. Dan janganlah kamu mengintai-intai dan janganlah kamu saling berebut dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling membelakangi dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari, Muslim dan Daud)


Penyakit buruk sangka ini disebabkan oleh : Menuruti hawa nafsu, menuruti bujukan syetan, tidak percaya diri, iri dengan orang lain dan kurangnya mensyukuri nikmat Allah SWT.


Menurut para ahli, buruk sangka merupakan salah satu mekanisme psikologis yang paling alamiah dalam diri manusia. Karena itu, sulit sekali menghilangkan buruk sangka. Banyak faktor yang memicu merebaknya prasangka-prasangka buruk:

  1. Faktor lingkungan
 
Lingkungan memberi pengaruh yang cukup besar bagi lahirnya sikap buruk sangka. Lingkungan dimaksud bisa keluarga, masyarakat, tempat bekerja, sekolah, dan lain sebagainya. Lingkungan yang kejam, kotor, dan tidak sehat seringkali memberi pengaruh kuat bagi lahirnya kebiasaan buruk sangka. Bahkan, dalam budaya orang-orang ‘primitif’, buruk sangka seringkali menjadi acuan utama kehidupan sosial mereka, sebagai kompensasi timbal balik dari lingkungannya yang memang buruk.

Seperti yang terjadi pada suku Dobu di Melanesia. Ideologi hidup mereka adalah sihir. Akibatnya, paradigma hidup mereka pun banyak yang terjungkal. Setiap anak-anak Dobu meyakini bahwa kehidupan mereka diatur oleh kekuatan sihir. Maka, begitu ada yang terkena bencana atau musibah, muncullah aksi balas dendam dari keluarganya kepada pihak-pihak yang diduga telah menyihir anggota keluarganya.

Setiap orang dari suku tersebut selalu takut kalau diracun. Makanan dijaga ketat. Hanya dengan orang-orang tertentu saja suku Dobu mau makan bersama. Sikap curiga, buruk sangka, tidak dapat dipercaya, menjadi budaya hidup mereka.

Lingkungan hidup yang keras bisa menumbuhsuburkan sikap cepat curiga. Ia identik dengan medan tempat setiap orang harus bertarung mempertahankan hidupnya.

Berjibaku mengejar apa yang bisa ia makan, meski harus memangsa orang lain dengan jalan yang salah. Bagaimana dengan lingkungan kita? Atau Bagaimana dengan lingkungan kerja kita ?

2.  Keyakinan yang salah

Keyakinan yang salah bisa melahirkan buruk sangka. Termasuk dalam kategori ini adalah ideologi atau aqidah yang salah. Seperti berburuk sangka kepada Allah, dengan menuduh-Nya tidak adil. Orang-orang jahiliyah sebelum Islam punya keyakinan yang terkait erat dengan prasangka buruk. Setiap memasuki hari-hari yang baru, mereka mengukur nasib dengan apa yang pertama kali mereka lihat. Bila pagi itu mereka melihat ular, atau burung gagak, atau apa saja yang berwarna hitam, pertanda hari buruk sedang menanti.

Dalam Islam, perilaku seperti itu disebut dengan tathayyur. Secara bahasa, tathayyur artinya sebuah perilaku menyandarkan sikap kepada burung (tha-ir). Tindakan seperti itu dilarang keras oleh Islam karena bisa merusak kemurnian akidah.

Buruk sangka dengan kemasan keyakinan seperti itu masih banyak menyebar dalam masyarakat. Terlebih bila masyarakat tersebut dahulunya penganut paham animisme. Tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat modern pun banyak yang masih terjerat perilaku seperti itu. Banyak yang menggantungkan nasibnya kepada ramalan-ramalan aneh.

3. Kepentingan Politik
 
Kepentingan-kepentingan politik juga menjadi pemicu lahirnya sikap buruk sangka. Definisi kepentingan politik yang dimaksud tidak selalu harus dalam konteks kekuasaan di sebuah negara, dari tingkat lurah sampai presiden. Bisa saja berbentuk politik pencapaian jabatan di sebuah instansi, politik pencapaian tujuan tertentu dalam sebuah organisasi, atau dalam sebuah komunitas masyarakat.

Di jaman Soeharto berkuasa, tak sedikit kebijakan politik yang dijalankan berdasarkan buruk sangka. Kekhawatiran dan ketakutan kepada umat Islam dalam kurun yang cukup lama telah menjadi alasan untuk berlaku diskriminatif kepada anak bangsanya sendiri.
Tragedi Priok misalnya, telah banyak memakan korban. Bahkan banyak orang yang sama sekali tak punya urusan dengan peristiwa Priok juga terdzalimi dengan kejam.
 

Pendek kata, kepentingan politik telah menjadikan alasan sistem kewaspadaan nasional sebagai pembenaran tindakan-tindakan brutal, yang dasarnya hanya prasangka buruk. Identifikasi bahwa semua orang Islam yang nampak konsisten disebut bagian dari ekstrim kanan, yang akan merongrong kewibawaan negara, menggulingkan pemerintahan yang sah, adalah idiom-idiom buruk sangka yang terus dijadikan komoditas politik Soeharto. Sayangnya, idiom ekstrim kanan juga masih didengungkan oleh penguasa saat ini. Bahkan, muncul kebiasaan menyebarkan prasangka dan keresahan dengan menyebut inisial, sebagai tertuduh dalam beberapa kasus.

Tentu semua orang tidak ingin, bila bangsa ini terus menerus dipimpin oleh penguasa yang kebijakan politiknya hanya berdasar buruk sangka, berpijak pada asumsi-asumsi buta, atau bahkan hanya karena selera suka atau tidak suka.

4.  Estimasi Pertahanan Diri

Kadang, orang punya prasangka buruk demi kepentingan mempertahankan diri. Rasa aman yang ingin diperoleh seseorang sering kali diwujudkan dengan membuat lingkar pengaman secara psikologis atas semua orang yang dihadapi. Kebiasaan ini bahkan telah merambah ke sektor-sektor kehidupan harian. Ada penelitian unik (Baron & Byrne,1997) tentang kecenderungan para perawat di rumah sakit yang enggan merawat orang-orang gemuk, karena prasangka ringan (mild prejudice) yang tak berdasar. Mereka berprasangka bahwa orang gemuk umumnya sulit diberi pelayanan perawatan. Tentu saja ini belum tentu benar. Tapi, begitulah adanya.

Estimasi pertahanan diri yang dasarnya buruk sangka sangat berbahaya. Ia bisa melahirkan stereotipe. Sebuah penyeragaman pandangan atas suatu obyek dengan totalitas. Seperti sangkaan bahwa ‘laki-laki yang menuntun motor di tengah malam itu pasti pencuri’, ‘orang yang berambut panjang itu pasti preman’, dan lain sebagainya.

Pengalaman unik seorang pemuda berikut bisa menjadi pelajaran. Arman (24 tahun), sempat gemetar dan serta merta menjauhi laki-laki berkulit gelap berminyak, berambut gondrong, berbadan besar serta berpakaian lusuh yang menghampirinya. Malam itu, ia terpaksa tidur di emperan toko. Arman bukan pengemis atau gelandangan, melainkan pemuda ‘rumahan’ yang ‘terlunta-lunta’ di Jakarta. Dari Surabaya, Arman memutuskan mendatangi teman lamanya di Jakarta. Ia berencana menetap sementara di rumah temannya sambil mencari kerja, berbekal ijazah SMA dan beberapa ijazah kursus. Di luar dugaannya, sewaktu tiba di alamat yang dituju, temannya sudah pindah, dan -suatu hal yang tidak anah para tetangga tidak tahu alamat barunya.

Malam mulai tiba. Sementara Arman tidak ingin mengeluarkan uang untuk menginap di losmen. Ia khawatir, uang simpanannya keburu habis sebelum nasibnya jelas. Ketika malam semakin larut, akhirnya ia memilih emperan toko untuk bermalam. Tapi segera ia menyesali pilihannya, karena laki-laki gondrong itu sekonyong-konyong menghampirinya. Di kepalanya sudah berkecamuk, orang seram seperti itu pasti akan merampok, menganiaya atau bahkan membunuhnya.

Tapi laki-laki itu dengan ramah menegurnya, dan mengajaknya berbincang. Akhirnya, Arman justru menceritakan masalah yang menimpanya. Melihat ketulusan di sorot mata laki-laki itu, Arman tiba-tiba yakin, ia orang baik-baik. Bahkan ia melihat, laki-laki itu seperti iba padanya. Menurut pengakuan laki-laki itu, ia memiliki adik yang sebaya Arman, dan sekarang tinggal di kampung halamannya, di daerah Sumatra.
Akhirnya, malam itu Arman justru menginap di rumah laki-laki itu, di daerah kumuh pinggiran kali Ciliwung. Dan orang yang kemudian dipanggilnya Abang itu memberinya pekerjaan, sebagai kenek bis yang dikemudikannya. Beberapa bulan Arman tinggal di rumah laki-laki itu, yang ternyata benar-benar baik dan memperlakukan Arman seperti adiknya. Ia juga heran, di jaman seperti ini, masih ada orang yang tulus seperti itu. Kini Arman sudah bekerja sebagai pegawai di suatu kantor. Tapi ia tidak pernah melupakan kebaikan sang Abang.

Sikap stereotipe menilai sesuatu secara keseluruhan juga dialami oleh Musyarif (26). Ia mengisahkan pengalaman yang tak akan ia lupakan. Suatu hari seperti biasa ia naik bis umum dari tempat tinggalnya di Bekasi ke Jakarta untuk bekerja. Menjelang keluar tol UKI, dilihatnya seorang laki-laki dengan kacamata hitam terus mendekat-dekat kepada seorang wanita berjilbab. Musyarif yakin bahwa seorang copet sedang siap-siap beraksi. Ia berusaha sedikit menghalangi laki-laki itu. Begitu bus menurunkan penumpangnya di UKI, wanita berjilbab itu menggamit laki-laki berkacamata hitam itu dan menuntunnya. Ternyata laki-laki itu buta. Dari cara wanita itu membimbingnya, bisa dipastikan ia suaminya, atau paling tidak salah satu keluarga dekatnya.

Bila berlebihan, buruk sangka karena estimasi pertahanan diri bisa menjadi penyakit kepribadian seperti paranoid. Di mana orang punya rasa takut yang sangat berlebihan. Hingga melahirkan anggapan secara konsisten bahwa orang lain berusaha menuntut, merusak, atau mengancam. Bahkan, orang yang berpenyakit seperti itu menolak menceritakan rahasia kepada orang lain karena takut kalau informasi tersebut digunakan untuk melawan dirinya. Bisa juga berdampak kepada gangguan kepribadian skizotipal. Yaitu suatu sikap dan penampilan ganjil, selalu curiga, dan kecemasan sosial yang luar biasa terhadap orang yang tidak dikenal.


5. Ilmu yang pas pasan.

Keterbatasan ilmu juga menjadi pemicu bagi munculnya sikap buruk sangka. Minimnya pengetahuan akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk memandang masalah, menyimpulkan, serta menentukan sikap atas berbagai peristiwa.

Dalam beberapa disiplin ilmu, kata ‘prasangka’ secara definitif diartikan sebagai penguasaan masalah sebesar 50 persen atau lebih tapi tidak sampai seratus persen. Ia sekaligus lawan dari kata ‘faham’, yaitu penguasaan masalah hingga seratus persen. Maka, orang yang tidak faham, sangat mungkin memaknai sesuatu dengan cara yang salah.

Setiap orang harus sadar, bahwa di atas yang tahu masih ada yang lebih tahu. Di atas yang berilmu masih ada yang lebih berilmu. Apalaqi hampir semua ilmu itu dinamis, berkembang dan memunculkan hal2 baru.

Buruk sangka karena keterbatasan pengetahuan bisa dihindari dengan mencari tahu. Dahulu, ketika Rasulullah memutuskan menerima perjanjian damai dengan orang-orang Quraisy di Hudhaibiyah, sebagian sahabat -termasuk Umar bin Khatab- memandang itu sebagai kekalahan. Tetapi dikemudian hari ia menyadari kekeliruan dugaannya.
 
Dahulu, Musa menganggap Hidhir telah bertindak aniaya. Membolongi perahu, membunuh anak, serta memperbaiki bangunan di suatu kampung yang penduduknya pelit. Setelah dijelaskan alasannya barulah ia menyadari bahwa dugaannya itu salah.

Disisi yang lain, ada juga hasil kesimpulan yang akhirnya memberikan nilai minus/kurang atas diri seseorang, yang mana instrumen penilaiannya benar-benar berdasarkan perangkat penilaian yang obyektif (misalnya mengacu pada poin-poin syakhsiyah Islamiyah). Namun ironisnya penilaian itu justru dianggap sebagai kesimpulan yang dipenuhi oleh rasa buruk sangka. Akibatnya, orang yang ilmu-nya pas-pas-an justru menaruh simpati kepada orang yang telah dinilai kurang tersebut. Lebih parah lagi jika rasa simpati itu sudah bersemayam sejak lama, sehingga melahirkan sikap proteksi atas semua penilaian yang kurang atas orang yang dikaguminya. Inilah bentuk lain dari buruk sangka terhadap suatu evaluasi yang obyektif. Wallahu’alam. Hanya orang yang kuat dan berilmu, yang mampu memikul amanah.

8. Diskriminasi “Besar-Kecil “

Adanya diskriminasi atas ‘orang-orang kecil’ oleh ‘orang-orang besar’ dalam berbagai bentuk juga merupakan salah satu korban buruk sangka. Seringkali orang-orang kaya memenuhi pikirannya dengan persepsi bahwa orang-orang miskin itu kumuh, udik, bodoh, bahkan pencuri. Padahal, orang-orang ‘besar’ banyak juga yang profesinya sebagai koruptor dan penjahat berkerah putih.

Seorang pembantu rumah tangga wanita, sebut saja Tina, di kawasan Jakarta Selatan pernah pergi meninggalkan majikannya karena tidak tahan dengan perlakuan diskriminatif yang ia terima. Kedekatan anak-anak majikannya dengan dirinya akhirnya tak mampu meluluhkan hatinya untuk pergi.

Kebetulan sekali saat ia pamit, baru saja ada penghuni rumah itu yang kehilangan uang. Dan, dengan serempak dirinya yang diperiksa. Tas kecil miliknya yang berisi pakaian pun tak urung dibongkar dan diacak-acak. Tina berusaha tabah meski sebagai manusia normal ia sebenarnya tidak rela diperlakukan kasar.


Diskriminasi ‘besar-kecil’ terjadi dalam banyak bentuk. Budaya feodalisme yang merambah beragam sektor kehidupan turut membudidayakan kebiasaan buruk sangka menjadi penyakit yang menyerang kemana-mana. Seorang tentara mengira dirinya yang paling kuat, sedang orang sipil itu lemah. Seorang dokter merasa dirinya yang paling punya pengetahuan tentang kesehatan, sedang pasien itu bodoh dan tidak tahu menahu soal penyakit.

Orang tua merasa dirinya paling tahu sedang anak-anaknya yang mulai tumbuh dianggap anak bau kencur yang tak mengerti apa-apa. Seorang kepala bagian, seorang manajer, seorang direktur, seorang ketua, merasa bahwa orang-orang yang berada dibawahnya lebih rendah dari dirinya. Rasialisme oleh rezim apartheid di Afrika juga bagian dari bentuk prasangka buruk, bahwa orang kulit putih lebih mulia dari orang kulit hitam. Semua itu adalah perilaku buruk sangka yang diskriminatif dan tidak semuanya benar.

Urat nadi buruk sangka masih sangat banyak. Dengan menekan semaksimal mungkin sikap berprasangka buruk, setidaknya kita telah memberi kontribusi yang cukup berarti bagi kelangsungan hidup banyak orang. Ya, kita memang harus berpikir sebelum bertindak. Kita harus berpengetahuan sebelum berkesimpulan. Sebuah pembiasaan diri yang tidak ringan, memang. Agar kita tidak salah langkah lagi dikemudian hari, karena hidup ini tidak mengenal siaran tunda. Wallahu’alam

Lantas, bagaimana cara menghindari buruk sangka itu ? Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk kita menghindari penyakit buruk sangka, yaitu :

Usahakan membayangkan bagaimana sedihnya kalau diri kita dijadikan objek buruk sangka, dengan demikian tentunya bahwa kita juga tidak mau kalau diri kita dijadikan objek, begitu juga orang lain. Lakukan yang positif misalnya dengan mempererat tali persaudaraan, menumbuhkan kesadaran dan hormat menghormati dan jangan dilupakan isi rohani kita dengan santapan-santapan bergizi seperti tholabul ilmi, dengan banyak belajar tentang ilmu-ilmu agama.

Selasa, 26 Oktober 2010

" PEMIMPIN MENURUT ISLAM "

Rasulullah bersabda, 
”Tidaklah  Allah SWT  mengutus  seorang  nabi  atau   menjadikan  seorang khalifah kecuali ada bersama  mereka  itu   golongan  pejabat  (pembantu).  Yaitu   pejabat   yang menyuruh  kepada  kebaikan  dan  mendorongnya  kesana,  dan  pejabat  yang  menyuruh  kepada kemungkaran dan mendorongnya ke sana.
Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).

Dikantor  saya  dimana  saya  bekerja  saat  ini pimpinan kantor/ manajer belum ada gantinya karena manajer lama pensiun Sementara ini kantor dikendalikan Assisten Manajer Keuangan dan SDM dan Assisten Manajer Konstruksi.

Lalu bagaimana seharusnya Sifat/ Sikap Pimpinan/ Manajer dan Assistennya menurut Islam ?

Menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,  karena kelak  Allah  SWT  akan  meminta  pertanggung  jawaban  atas  kepemimpinannya itu.

Dalam  Islam  sudah  ada  aturan-aturan yang berkaitan dengan hal tersebut,diantaranya sebagai berikut:

Niat yang Lurus
Hendaklah  saat  menerima  suatu  tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah SWT perintahkan.  Lalu iringi hal itu  dengan mengharapkan keridhaan - Nya saja.   Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban,  bukan kesempatan dan kemuliaan.

Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda  kepada  Abdurrahman  bin   Samurah Radhiyallahu’anhu,   ”W a h a i    A b d u l Rahman bin samurah!    J a n g a n l a h    kamu  meminta untuk menjadi pemimpin Sesungguhnya  jika  kepemimpinan  diberikan  kepada    kamu   karena  permintaan,   maka kamu  akan  memikul  tanggung  jawab  sendirian,   dan  jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya “
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Berpegang pada Hukum Allah.
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,

Jika ia meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dicopot dari jabatannya

Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah  bersabda,  ” Tidaklah   seorang   pemimpin   mempunyai   perkara   kecuali  ia akan datang dengannya  pada  hari  kiamat  dengan  kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.”
(Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

Tidak Menutup Diri Saat Diperlukan Bawahan/ Rakyat.
Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan bawahan/rakyat.
Rasulullah bersabda, ” Tidaklah  seorang  pemimpin  atau  pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat,  dan kemiskinan kecuali Allah  akan  menutup  pintu -pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Menasehati bawahan/ rakyat
Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh – sungguh   dan  tidak  menasehati  mereka,  kecuali  pemimpin  itu tidak akan masuk surga bersama mereka (bawahan/ rakyatnya).”

Tidak Menerima Hadiah
Seorang  bawahan/ rakyat  yang  memberikan  hadiah  kepada  seorang  pemimpin  pasti  mempunyai maksud tersembunyi,  entah ingin mendekati atau mengambil hati.
Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari bawahan/ rakyatnya.
Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.”
(Riwayat Thabrani).

Lemah Lembut
Doa Rasullullah,
"Ya Allah,  barang siapa  mengurus  satu  perkara  umatku  lalu  ia  mempersulitnya,  maka persulitlah ia, dan  barang siapa  yang  mengurus  satu  perkara  umatku  lalu  ia  berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya."

Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat.
Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).

Inilah Pemimpin !

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan, Pemimpin adalah pelayan umatnya. Itulah sikap pemimpin dalam Islam. Bukan minta dilayani

Ini ada cerita :

Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau keluar menemui seorang.

Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata.

Tiga hari kemudian beliau keluar.
Para
pengawal menyambutnya, hendak memberi hormat. Umar malah mencegahnya.  " Kalian  jangan  memulai  salam  kepadaku,  bahkan  salam  itu  kewajiban  saya kepada kalian."

Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya.

Umar  menuju  ke  sebuah  ruangan.  
Para
 pembesar dan tokoh telah menunggunya. Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?

" Wahai  sekalian  manusia,  jika  kalian  berdiri,  saya  pun  berdiri.  Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia  itu sebenarnya  hanya  berhak  berdiri  di hadapan  Rabbul-'Alamin."   Itulah  yang  dikatakan pertama kali kepada rakyatnya.

Rendah Hati
Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian.   Sebagaimana kata    R a s u l u l l a h Shallallahu 'alaihi wa sallam, Pemimpin adalah pelayan umatnya.Sabda Nabi itu sungguh istimewa, sebab seorang pemimpin biasanya seperti seorang raja. Dan sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan.

Ternyata   U m a r    tidak  serta  merta  meneruskan  b u d a y a   yang   sebenarnya  menguntungkannya secara pribadi itu.  Beliau tak mau dihormati berlebihan dan hidup dalam  kemewahan.  Ia memilih sikap rendah hati dan sederhana.

Sebagai pemimpin besar,  bersikap rendah hati, sederhana, dan melayani tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata, siapa tak tergiur?

Di negeri kita ini,  kedudukan  dan  jabatan  malah  jadi  rebutan.   Bahkan  banyak  yang  mati - matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya.  Setelah  berhasil  meraihnya,  pertama kali yang dilakukan  adalah  pesta kemenangan.   Kemudian  segeralah  digunakan  aji  mumpung.  Sim salabim, jadilah OKB (Orang Kaya Baru).  
Gaya  hidup  dan pergaulannya berbeda dengan sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah memang impiannya.

Mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan
gaya hidup mewah itu, apa sih  sesungguhnya dicari?  Dengan mobil mewah,  rumah  megah,  pakaian serba mahal, apa sebenarnya  yang  dirindukan lubuk hati? Mungkin terdetak dorongan hidup terhormat dan dimuliakan.

Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita-cita hidup hina  dan  direndahkan.   Tetapi  benarkah  kemuliaan  dan  kehormatan  dapat  dicapai  dengan  hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama-nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatannya. Cermati satu per satu. Benarkah hati Anda terkesan karena kemewahan mereka?

Mari  kita  bercermin  kepada Umar. Kita tenangkan  hati  dan  jernihkan pikiran sejenak.  Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja-raja yang lain,  akankah memiliki nama harum seperti saat ini?

Mungkin  saja  kemewahan singgasana bisa menjadi topeng kemuliaan di muka bawahan/ rakyat. Tetapi berapa lama kemuliaan  seperti itu bisa bertahan?

Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum. Terbukti bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menyukai orang-orang sombong.

















Misi Mulia

Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memilih hidup melayani. Apalagi kalau terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani.

Ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat diambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat diberikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan, seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.
Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan.

Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berpikir bagaimana    karyawannya sejahtera.
Karyawan pun berpikir bagaimana bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya.

Sebagai  pemimpin keluarga,  seorang  ayah  yang  mengasihi keluarganya akan mengantar pada suasana sakinah. Anak-anaknya pun termotivasi untuk meneladani dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin. Dan setiap kita pada hakikatnya adalah pemimpin, begitu sabda Rasulullah.

Bila  setiap  orang  berpikir  minta  dilayani,  yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani stafnya. Majikan memeras para karyawan. Petugas mempersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil ‘alamin,
tetapi keuntungan pribadi.

Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat, malah dikuras untuk bermewah-mewah diri dan kroninya. Hutan digunduli sehingga banjir dan longsor di sana-sini. Rakyatlah yang jadi korban.

Melihat  perilaku  pemimpin  yang seperti itu, rakyat pun ikut-ikutan mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan,  namun belum bersyukur  dan malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin.  Sungguh cara hidup yang  tidak  akan  berujung  kepada  kemuliaan, tetapi justru kehinaan. Dan inilah yang banyak disaksikan di sekeliling kita sekarang.
 














Agar mampu rahmatan lil 'alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, harus diganti dengan kebeningan nurani.

Sumber Inspirasi

Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani. Tidakkah hati Anda menyukai dan terkesan dengan keikhlasannya?Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesama. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.

Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan keberkahan rendah hati. Meski hanya menjabat dua tahun, terjadi perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang sebelumnya buruk seketika berubah menjadi baik.

Umat akan terinspirasi pemimpin yang rendah hati dan teramat jujur itu. Yang menjadi pembicaraan heboh saat itu di berbagai sudut
kota, warung, sampai pinggiran ladang di desa adalah masalah iman dan amal shalih. Mungkin seheboh dunia ini ketika dihipnotis oleh perhelatan Piala Dunia yang belum lama berakhir.

Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Kemakmuran mencapai puncaknya. Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima zakat. Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan meminta dan meminta.
Alam dan binatang pun digambarkan turut berbahagia. Para gembala yang biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh serigala, saat itu kedua binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan dibuka Allah bila manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah.

Atas prestasi gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan sebagai Khulafa'u Ar-Rasyidin kelima setelah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Pemimpin adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan. Karena pemimpin memiliki peranan yang sangat vital dalam rangka untuk mencapai satu tujuan. Selain itu, seorang pemimpin juga memiliki andil yang sangat besar bahkan utama dalam mengarahkan pencapaian suatu tujuan melalui jalur-jalur yang diridhai oleh Allah swt
.
Dalam era yang serba kompleks dan semakin kompleks ini baik dalam segi aktivitas maupun permasalahannya,  figure seorang  pemimpin  yang  baik  telah menjadi satu kelangkaan yang luar biasa. Tentunya, figur yang baik ini tidak lain adalah dilihat dari sudut pandang Islam. Karena, hanya Islamlah yang mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa menjadi pemimpin yang baik dan menjalankan kepemimpinan tersebut dengan baik. Karena setiap pemimpin akan bertanggungjawab atas kepemimpinannya kelak kepada Allah swt. Karena di dalam ajaran Islam telah disampaikan bahwa setiap diri atau setiap manusia itu pada dasarnya adalah pemimpin. Minimal, ia adalah pemimpin bagi diri sendiri untuk membawa langkah kehidupannya senantiasa berada di atas jalur yang diridhai oleh Allah swt dalam segala hal.
Beberapa penjelasan di atas menjadi salah satu alasan mengapa pemimpin dan kepemimpinan menjadi salah satu pokok bahasan yang terdapat di dalam Islam, bahkan Islam sangat memperhatikan masalah pemimpin dan atau kepemimpinan tersebut.

Pemimpin adalah kompas dan peta yang akan menunjukkan kemana kehidupan ini harus melangkah dan dibawa. Tanpa kompas dan peta, maka perjalanan hidup dapat dengan mudah tersesat. Pemimpin adalah kompas  dan  peta  yang  berkualitas  tinggi,   yang  tidak  mudah  koyak  atau  rusak  sehingga  arah dan tujuannya akan tetap jelas.   Pemimpin  adalah  kompas  dan  peta berkualitas tinggi yang dapat bertahan dalam berbagai perlakuan, sehingga ia dapat memberikan arah dan petunjuk yang benar, tidak membawa kepada kesesatan dan kebinasaan.

Pemimpin adalah ujung tombak dari sebuah kehidupan, jika ujung tombak itu tumpul maka kehidupan akan vakum, tidak berdaya guna,  tidak efektif.  Untuk itu, Islam  memberikan  banyak sekali petunjuk kepada manusia yang pada dasarnya  adalah  seorang  pemimpin  untuk  menjalani  kepemimpinannya.
Ada beberapa hal yang hendaknya terdapat atau dimiliki oleh setiap pemimpin yang akan menjalankan kepemimpinannya, sehingga kepemimpinannya dapat mencapai tujuan namun tetap dalam ridha Allah swt, bukan mencapai rujuan dengan cara yang dilaknat atau menimbulkan murka Allah swt. Berikut ini adalah beberapa hal yang dalam kacamata Islam hendaknya harus ada di dalam jiwa setiap pemimpin sehingga ia dapat membawa orang-orang yang berada di dalam kepemimpinannya menuju keselamatan di dunia dan di akhirat:

Jujur
Pemimpin adalah panutan bagi orang-orang yang berada di dalam kemimpinannya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur. Jujur dalam perkataan dan perbuatan, sehingga antara apa yang disampaikannya melalui lisan seiring dengan apa yang senantiasa diperbuatnya.
Orang yang tidak memiliki sifat jujur tidaklah layak menjadi seorang pemimpin, karena orang semacam ini adalah termasuk salah satu orang yang dilaknat oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.  

Allah SWT berfirman di dalam Al Quran yang artinya:




















Sementara ini dulu yang kutulis saat ini dari copy/ paste dari beberapa sumber ! Paling tidak bermanfaat buat saya pribadi, mudah2an bisa menambah wawasan sidang pembaca blog-ku !